Hallo, pembahasan kali ini akan
mengupas tentang interaksi sosial. Pasti kalian sering sekali mendengar atau
melihat tulisan interaksi, dan tanpa kalian sadari kalian telah melakukannya!
Ya, interaksi adalah proses timbal balik antarsesama manusia dimana mereka
memakai simbol dan dipahami oleh pihak-pihak yang melakukan interaksi. Nah,
secara sosiologis interaksi akan terjadi apabila ada kontak (yaitu pihak-pihak saling bertemu) dan komunikasi, dua hal inilah yang disebut sebagai syarat interaksi sosial. Untuk syarat
kontak, kalau diera modern seperti saat ini sudah agak bergeser. Maksudnya,
antarmanusia sekarang dapat melakukan interaksi tanpa harus bertemu. Nah, untuk
proses interaksi dimana pihak yang berinteraksi saling bertemu langsung
dinamakan kontak primer. Kalau tidak
langsung, misal melalui BBM, Line, WA, Massanger, SMS, email dll dinamakan kontak sekunder. Namun komponen
interaksi sampai kapanpun selalu tetap, yaitu: komunikator, komunikan, pesan
dan timbal balik.
Tindakan manusia selalu didorong
oleh motif-motif tertentu sehingga membentuk pola. Dalam hubungannya dengan
interaksi sosial, terdapat beberapa hal
yang mendorong seseorang melakukan interaksi, seperti diantaranya:
a.
Imitasi :
proses meniru idolanya (sebatas penampilan, dan gaya berbicara yg ditiru)
b.
Identifikasi :
proses imitasi yang berkelanjutan, dimana yang ditirunya tidak hanya sebatas
meniru penampilan saja, namun juga meniru sifat, karakter, falsafah hidup atau
ideologi idolanya. Sehingga identifikasi bisa dikatakan sebagai proses
menyamakan diri.
c.
Simpati :
simpati adalah perasaan ikut sedih, atau gembira. Misalnya ada teman yg terkena
musibah maka teman-teman yang lain sebatas ikut prihatin.
d.
Empati :
merupakan proses simpati yang berkelanjutan. Jadi apabila kita lihat contoh
diatas, jika kasusnya seseorang merasa empati maka dia tidak hanya ikut
prihatin namun juga memberi bantuan langsung.
e.
Motivasi :
adalah dorongan. Biasanya seseorang yang merasa sedih atau hampir putus asa,
jika ada yang memberi motivasi maka dia akan semangat kembali.
f.
Sugesti :
pengaruh. Seseorang yang tersugesti berada dalam posisi yang tidak netral
sehingga dia bisa terpengaruh apa yang telah dikatakan orang lain kepadanya.
Misalnya iklan.
Nah, seperti yang saya jelaskan
sebelumnya bahwa interaksi sosial merupakan pemahaman manusia terhadap tindakan
individu atau kelompok lain dengan menggunakan simbol, pemaknaan tindakan
menjadi sangat penting. Terkadang kita tidak habis pikir dengan tindakan orang
lain yang dirasa kurang rasional. Namun rasional atau tidak merupakan sesuatu
hal yang sebenarnya relatif dan bersifat subjektif. Tokoh sosiologi, Max Weber, mengklasifikasikan empat jenis tindakan rasional yang
mempengaruhi sistem dan struktur sosial masyarakat.
a.
Tindakan rasional instrumental
Tindakan seseorang yang berusaha memenuhi tujuan dengan cara-cara atau
alat tertentu. Berarti tindakan yang dilakukan seseorang secara sadar dilakukan
atas dasar pertimbangan secara matang. Misalnya, seorang dosen lulusan S2 yang
ingin naik pangkat, maka dia memutuskan untuk kuliah S3. Tindakan ini termasuk
dalam jenis tindakan rasional instrumental, dimana dia memiliki tujuan yaitu
menaikkan pangkatnya dengan cara kuliah S3.
b.
Rasional berorientasi nilai
Tindakan yang dilakukan seseorang sebenarnya sudah mengandung nilai
dimana tujuan dari tindakan tersebut otomatis juga terdapat didalamnya. Cara
atau alat dari tindakan ini hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang
sadar (Narwoko, J Dwi. & Bagong Suyanto, 2011: 19). Misalnya adalah
perilaku beribadah, tindakan orang yang melakukan ibadah secara otomatis sudah
mengandung nilai agama bukan? Contoh tindakan lainnya adalah seseorang sedang
naik kendaran umum dan memberikan tempat duduknya kepada ibu hamil. Tindakan
tersebut juga mengandung nilai. Intinya tindakan dengan sifat rasional nilai sebenarnya
sudah mengandung nilai.
c.
Tindakan tradisional
Tindakan ini menganut pada adat istiadat atau kebiasaan masyarakat.
d.
Tindakan afektif
Tindakan
ini didasarkan atas emosi atau rasa kasih sayang.
Sosiologi selalu berbicara
tentang realita. Realita dalam masyarakat tidak selalu manis, dan di dunia ini
selalu ada dua sisi yang berbeda. Dalam berinteraksi, terkadang tidak selalu
berjalan mulus dan dapat menimbulkan konflik. Maka oleh tokoh sosiologi, interaksi
dibedakan menjadi bentuk interaksi,
yaitu.
a.
asosiatif (berbentuk kerja sama dan saling
menguntungkan)
jenis-jenisnya adalah
1)
kerjasama (cooperation), dibagi dalam
bentuk-bentuk berikut ini.
-
koalisi (penggabungan dua kelompok)
-
joint venture (patungan)
-
bergaining (tawar menawar)
-
kooptasi (penerimaan unsur-unsur baru)
2)
akomodasi (cara-cara penyelesaian konflik)
3)
asimilasi (peleburan dua budaya dimana budaya
lama melebur menjadi budaya baru)
4)
akulturasi (peleburan dua budaya dimana budaya
lama tidak hilang)
b.
disosiatif (merupakan interaksi dengan dampak
negatif)
-
kompetisi (persaingan)
-
kontravensi (menghina, memprovokasi, memfitnah
dll)
-
konflik
(perselisihan dua pihak)
Dua sisi positif dan negatif ini
akan selalu terjadi dalam masyarakat. Dan kita sebagai bagian dari masyarakat,
tentunya harus lebih bijak dalam menentukan tindakan.
Semoga tulisan ini bermanfaat J silakan bertanya dengan mengirim email ke restilaila@gmail.com apabila belum
jelas..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar